Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Nonggale Bengga: Kala Kerbau Bumi Terbangun dan Harmoni Mitigasi Leluhur Kaili

Nonggale Bengga: Kala Kerbau Bumi Terbangun dan Harmoni Mitigasi Leluhur Kaili

  • account_circle Smiet, SKom
  • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
  • visibility 110
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KOTA PALU — Ada cara yang berbeda untuk membaca bumi. Ilmu pengetahuan modern mengenal gempa sebagai konsekuensi dari pelepasan energi di dalam kerak bumi. Kita mengenal magnitudo, episentrum, sesar aktif, likuefaksi hingga tsunami. Semuanya penting untuk memahami risiko dan menyelamatkan manusia.

Tetapi jauh sebelum istilah-istilah itu hadir dalam buku-buku kebencanaan, masyarakat Kaili telah memiliki bahasa sendiri untuk membaca gerak tanah.

Lingu

Sebuah istilah yang membawa kita pada satu gambaran yang sangat kuat: Nonggale Bengga—kerbau yang sedang tidur, kemudian menggeliat, menggeser tubuh, dan bersiap untuk bangun.

Bagi masyarakat Kaili, kerbau bukan sekadar hewan. Bengga memiliki simbol kemakmuran, kekuatan dan daya tahan hidup. Jejak simboliknya bahkan dapat ditemukan dalam berbagai ornamen budaya.

Maka ketika “kerbau bumi” bergerak, gambaran yang muncul bukan semata-mata tentang kehancuran.

Ada bumi yang sedang bergerak.

Ada alam yang sedang menata dirinya.

Dan ada manusia yang seharusnya belajar menyesuaikan diri.

Ketika Tanah Tidak Pernah Benar-Benar Diam

Tanah Kaili hidup di atas lanskap geologi yang dinamis.

Patahan Palu-Koro menjadi bagian penting dari cerita panjang bumi Sulawesi Tengah. Bagi generasi modern, keberadaan patahan aktif adalah informasi ilmiah. Bagi leluhur, pergerakan tanah adalah bagian dari pengalaman hidup yang diwariskan melalui tutur, ingatan kolektif dan pengamatan terhadap lingkungan.

Mereka mungkin tidak memiliki seismograf.

Tetapi mereka memiliki ingatan.

Mereka mengamati bagaimana tanah bergerak, bagaimana air berubah, bagaimana lereng bereaksi dan bagaimana permukiman seharusnya ditempatkan.

Dari sanalah lahir sebuah prinsip sederhana namun sangat penting dalam mitigasi:

Jangan memaksa alam mengikuti manusia. Manusialah yang harus memahami karakter alam.

Rumah yang Tidak Melawan Guncangan

Barangkali salah satu warisan paling menarik adalah arsitektur tradisional.

Rumah dan bangunan tradisional masyarakat Kaili tidak lahir dari ruang laboratorium modern. Ia lahir dari proses panjang antara manusia, lingkungan dan pengalaman.

Struktur kayu, tiang tumpu serta sambungan pasak memberikan fleksibilitas yang berbeda dibanding konstruksi bangunan yang sepenuhnya kaku.

Ketika tanah bergerak, struktur yang fleksibel memiliki kemampuan untuk mengikuti sebagian gerakan tersebut.

Inilah filosofi yang menarik untuk direnungkan di tengah pembangunan modern yang kerap menjadikan beton sebagai simbol kemajuan.

Kemajuan tidak selalu berarti membuat bangunan semakin kaku.

Kemajuan bisa pula berarti memahami kapan sebuah struktur harus kuat dan kapan ia harus lentur.

Leluhur Kaili tampaknya telah memahami prinsip itu melalui pengalaman.

Tambi: Menyimpan Kehidupan untuk Hari yang Sulit

Mitigasi tradisional ternyata tidak berhenti pada rumah tinggal.

Ada Tambi.

Bangunan tradisional berbentuk panggung dengan struktur tinggi ini memiliki fungsi yang berkaitan dengan penyimpanan pangan, benih dan kebutuhan komunal. Dalam konteks kehidupan masyarakat tradisional, keberadaan ruang penyimpanan seperti ini bukan sekadar persoalan logistik.

Ia adalah strategi bertahan hidup.

Ketika akses antarwilayah terputus karena pergerakan tanah, banjir, longsor atau gangguan lainnya, masyarakat tidak serta-merta kehilangan sumber kehidupannya.

Pangan yang disimpan menjadi cadangan.

Benih menjadi harapan untuk musim berikutnya.

Dan bangunan komunal menjadi bagian dari sistem ketahanan masyarakat.

Dalam bahasa kebencanaan modern, kita menyebutnya ketahanan pangan dan community resilience.

Leluhur mungkin tidak menggunakan istilah tersebut.

Namun mereka telah menjalankannya.

Bantaya: Ketika Mitigasi Dimulai dari Musyawarah

Ada pula Bantaya—ruang sosial tempat masyarakat berkumpul dan bermusyawarah.

Di tempat seperti inilah pengetahuan tidak hanya disimpan dalam benda, tetapi juga dalam percakapan.

Para pemangku adat atau Pangava memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Keputusan mengenai kehidupan bersama tidak hanya didasarkan pada kepentingan individu, tetapi mempertimbangkan ruang, lingkungan dan tanda-tanda alam yang dibaca secara kolektif.

Dalam konteks kebencanaan, konsep ini sangat relevan.

Sebab bencana tidak pernah hanya menjadi urusan satu orang.

Ketika gempa terjadi, masyarakat membutuhkan keputusan bersama: ke mana harus bergerak, siapa yang harus ditolong lebih dahulu, di mana berkumpul, bagaimana memastikan pangan tersedia dan bagaimana menjaga kelompok rentan.

Mitigasi pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi.

Mitigasi adalah budaya mengambil keputusan bersama.

Baruga dan Kekuatan Komunitas

Kemudian ada Baruga, ruang terbuka bertiang yang berfungsi sebagai tempat berkumpul dan menjalankan berbagai aktivitas sosial masyarakat.

Dalam perspektif kebencanaan, ruang seperti ini memiliki nilai strategis.

Ketika rumah-rumah tidak lagi aman untuk ditempati, masyarakat membutuhkan ruang bersama.

Tempat berkumpul.

Tempat berkomunikasi.

Tempat mendistribusikan bantuan.

Tempat memastikan tidak ada anggota komunitas yang tertinggal.

Baruga mengingatkan kita bahwa sebuah permukiman yang tangguh bukan hanya permukiman yang memiliki bangunan kuat.

Ia adalah permukiman yang memiliki ruang sosial yang kuat.

Mengapa Kampung Tua Berada di Ketinggian?

Ada pertanyaan menarik ketika kita melihat kembali jejak permukiman lama masyarakat Kaili.

Mengapa sebagian kampung tua berada di kawasan yang lebih tinggi?

Tentu keputusan leluhur harus dipahami dalam konteks sejarah, budaya dan kondisi lingkungan pada zamannya. Namun dari perspektif mitigasi modern, pilihan ruang di kawasan yang lebih tinggi dapat memberikan sejumlah keuntungan terhadap risiko tertentu yang berkembang di kawasan pesisir maupun dataran rendah.

Ketinggian dapat memberikan jarak dari ancaman gelombang tsunami.

Ia juga dapat mengurangi paparan terhadap kondisi tertentu pada tanah aluvial yang berpotensi mengalami pencairan ketika mengalami guncangan kuat.

Artinya, pemilihan lokasi permukiman bukan sekadar persoalan estetika atau kedekatan dengan sumber air.

Ada pengetahuan ruang di baliknya.

Leluhur membaca lanskap sebelum membangun kehidupan.

Pangan: Benteng Terakhir Ketika Jalan Terputus

Dalam situasi bencana, kita sering berbicara tentang evakuasi, tempat pengungsian, alat komunikasi dan bantuan logistik.

Tetapi ada satu hal yang tidak kalah penting:

makanan.

Masyarakat tradisional telah memahami bahwa ketahanan sebuah komunitas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyelamatkan diri pada hari pertama.

Mereka harus mampu bertahan pada hari kedua, ketiga, minggu berikutnya, bahkan lebih lama.

Umbi-umbian, tanaman buah, jagung lokal dan berbagai sumber pangan lainnya menjadi bagian dari sistem bertahan hidup.

Lumbung bukan hanya tempat menyimpan makanan.

Ia adalah bentuk kedaulatan masyarakat menghadapi ketidakpastian alam.

Nonggale Bengga dan Pelajaran untuk Kota Modern

Hari ini kota-kota tumbuh semakin cepat.

Beton menggantikan kayu.

Jalan membelah lembah.

Permukiman semakin padat.

Gedung-gedung semakin tinggi.

Teknologi semakin canggih.

Namun satu pertanyaan tetap relevan:

Apakah pembangunan kita benar-benar memahami tanah tempat kita berdiri?

Kita mungkin memiliki teknologi konstruksi yang jauh lebih maju daripada leluhur.

Kita memiliki peta sesar.

Kita memiliki sistem peringatan dini.

Kita memiliki kajian risiko.

Tetapi teknologi tersebut akan kehilangan makna apabila pembangunan dilakukan dengan mengabaikan karakter ruang dan daya dukung lingkungan.

Kearifan lokal bukan berarti menolak modernitas.

Sebaliknya, kearifan lokal dapat menjadi kompas agar modernitas tidak kehilangan arah.

Sains menjelaskan bagaimana gempa terjadi.

Teknologi membantu kita mengurangi dampaknya.

Tetapi pengetahuan lokal mengingatkan bahwa manusia harus terlebih dahulu mengenali tempat di mana ia hidup.

Bumi Bukan Musuh

Mungkin sudah waktunya kita berhenti memandang bumi sebagai musuh yang sewaktu-waktu menyerang manusia.

Bumi tidak sedang mencari korban.

Bumi bergerak karena hukum alam yang telah bekerja jauh sebelum manusia membangun kota, jalan dan gedung.

Yang harus berubah adalah cara manusia memperlakukan ruang hidupnya.

Nonggale Bengga memberi sebuah metafora yang kuat.

Ketika kerbau bumi terbangun, manusia tidak harus menantangnya.

Manusia harus memahami geraknya.

Menjauh dari zona berbahaya.

Membangun dengan benar.

Menyiapkan pangan.

Menjaga ruang terbuka.

Memperkuat solidaritas.

Dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.

Sebab pada akhirnya, mitigasi terbaik bukanlah menunggu bencana datang.

Mitigasi adalah cara hidup.

Dan mungkin di situlah kebijaksanaan terbesar leluhur Kaili berbicara kepada kita hari ini:

Bumi tidak pernah berjanji untuk diam. Karena itu, manusialah yang harus belajar hidup dengan geraknya.

Ketika Nonggale Bengga kembali menggeliat, yang menentukan masa depan bukan seberapa keras kita melawan bumi, tetapi seberapa bijak kita memahami tempat berpijak.

  • Penulis: Smiet, SKom

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perkuat Kader Advokasi Lingkungan, Yayasan BIJAK Gelar Sekolah Paralegal Hijau di Palu

    Perkuat Kader Advokasi Lingkungan, Yayasan BIJAK Gelar Sekolah Paralegal Hijau di Palu

    • calendar_month Minggu, 9 Agt 2026
    • account_circle Stenly Fischer
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Kota Palu – Lembaga Bumi Hijau Khatulistiwa (bumibijak.org) resmi menggelar Sekolah Paralegal Hijau (SPH) sebagai langkah strategis untuk memperkuat kapasitas pemuda komunitas dan pemuda adat di Sulawesi Tengah. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, pada 7–9 Agustus 2026, ini dipusatkan di Kantor YLBH APIK Sulteng, Kota Palu. Pelatihan ini diikuti oleh 27 peserta lintas daerah, […]

  • Spanyol Resmi Kuasai Peringkat Pertama FIFA Usai Juara Piala Dunia 2026

    Spanyol Resmi Kuasai Peringkat Pertama FIFA Usai Juara Piala Dunia 2026

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Stenly Fischer
    • visibility 46
    • 0Komentar

    Halopalu.com – Tim Nasional Spanyol sukses mengambil alih posisi puncak ranking resmi FIFA/Coca-Cola Men’s World Ranking yang dirilis pada 20 Juli 2026. Keberhasilan gemilang ini diraih setelah tim berjuluk La Roja tersebut keluar sebagai juara Piala Dunia 2026 usai menundukkan Argentina melalui pertarungan sengit dengan skor tipis 1-0 di partai final yang bergengsi. Kemenangan dramatis […]

  • Kunci Sukses Ganesha Rahman Liswantoro, Mahasiswa Berprestasi ITB 2026 yang Menginspirasi

    Kunci Sukses Ganesha Rahman Liswantoro, Mahasiswa Berprestasi ITB 2026 yang Menginspirasi

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Stenly Fischer
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Halopalu.com – Dunia pendidikan tinggi kembali diwarnai oleh kisah-kisah luar biasa dari generasi muda yang menunjukkan dedikasi tinggi terhadap prestasi akademik maupun non-akademik. Salah satu sorotan utama datang dari lingkungan kampus ternama di Indonesia, di mana Ganesha Rahman Liswantoro, seorang mahasiswa dari program studi Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil mencatatkan namanya sebagai Juara 1 […]

  • single perdananya Penyanyi Muhammad Rizky siap mewarnai musik Indonesia Play Button

    Muhammad Rizky Rilis Single “Diciptakan Tuhan Hanya Untukku”

    • calendar_month Sabtu, 10 Okt 2026
    • account_circle Stenly Fischer
    • visibility 40
    • 0Komentar

    JAKARTA – Muhammad Rizky, talent Ratakanan Production, memperkenalkan single terbarunya berjudul “Diciptakan Tuhan Hanya Untukku”. Lagu ciptaannya sendiri ini mengangkat kisah cinta, kerinduan, dan kebahagiaan ketika menemukan seseorang yang begitu berarti dalam kehidupan. Melalui lagu tersebut, Muhammad Rizky yang juga dikenal dengan nama M. Rizky Hidayatullah sebagai pencipta lagu, menuangkan perasaan seseorang yang sulit berjauhan […]

  • Rumah Tua di Watutau, Saksi Bisu Perintis Zending Pieter ten Kate

    Rumah Tua di Watutau, Saksi Bisu Perintis Zending Pieter ten Kate

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
    • account_circle Stenly Fischer
    • visibility 235
    • 0Komentar

    Lembah Napu, Sulawesi Tengah – Ada tempat-tempat di muka bumi ini yang seolah membisikkan kisah masa lampau kepada siapa saja yang mau mendengarkan. Di jantung Lembah Napu, berdiri sebuah bangunan panggung kayu di Watutau yang menjadi saksi bisu sejarah peradaban di wilayah ini. Rumah ini diyakini pernah menjadi tempat tinggal dan pusat pelayanan bagi seorang […]

  • Ketua Kadin Sulteng, Gufran Ahmad. photo_camera 2

    Bukan Sekadar Jabatan, Gufran Tantang Pengurus KADIN Sulteng Buktikan Kerja Nyata

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • account_circle Rizky Hidayatullah
    • visibility 109
    • 0Komentar

    PALU — Kepengurusan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sulawesi Tengah periode 2026–2031 mulai bergerak. Rapat perdana pengurus digelar sebagai langkah awal menyatukan visi sekaligus mematangkan persiapan pelantikan kepengurusan. Ketua Umum KADIN Sulteng, Gufran Ahmad, menegaskan bahwa KADIN harus menjadi rumah bersama bagi dunia usaha untuk berkarya, menyampaikan gagasan dan membangun kontribusi bagi daerah. “Kantor KADIN […]

expand_less