Nonggale Bengga: Kala Kerbau Bumi Terbangun dan Harmoni Mitigasi Leluhur Kaili
- account_circle Smiet, SKom
- calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
- visibility 63
- comment 0 komentar
- print Cetak

Nonggale Bengga. GAMBAR: Iustrasi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KOTA PALU — Ada cara yang berbeda untuk membaca bumi. Ilmu pengetahuan modern mengenal gempa sebagai konsekuensi dari pelepasan energi di dalam kerak bumi. Kita mengenal magnitudo, episentrum, sesar aktif, likuefaksi hingga tsunami. Semuanya penting untuk memahami risiko dan menyelamatkan manusia.
Tetapi jauh sebelum istilah-istilah itu hadir dalam buku-buku kebencanaan, masyarakat Kaili telah memiliki bahasa sendiri untuk membaca gerak tanah.
Lingu
Sebuah istilah yang membawa kita pada satu gambaran yang sangat kuat: Nonggale Bengga—kerbau yang sedang tidur, kemudian menggeliat, menggeser tubuh, dan bersiap untuk bangun.
Bagi masyarakat Kaili, kerbau bukan sekadar hewan. Bengga memiliki simbol kemakmuran, kekuatan dan daya tahan hidup. Jejak simboliknya bahkan dapat ditemukan dalam berbagai ornamen budaya.
Maka ketika “kerbau bumi” bergerak, gambaran yang muncul bukan semata-mata tentang kehancuran.
Ada bumi yang sedang bergerak.
Ada alam yang sedang menata dirinya.
Dan ada manusia yang seharusnya belajar menyesuaikan diri.
Ketika Tanah Tidak Pernah Benar-Benar Diam
Tanah Kaili hidup di atas lanskap geologi yang dinamis.
Patahan Palu-Koro menjadi bagian penting dari cerita panjang bumi Sulawesi Tengah. Bagi generasi modern, keberadaan patahan aktif adalah informasi ilmiah. Bagi leluhur, pergerakan tanah adalah bagian dari pengalaman hidup yang diwariskan melalui tutur, ingatan kolektif dan pengamatan terhadap lingkungan.
Mereka mungkin tidak memiliki seismograf.
Tetapi mereka memiliki ingatan.
Mereka mengamati bagaimana tanah bergerak, bagaimana air berubah, bagaimana lereng bereaksi dan bagaimana permukiman seharusnya ditempatkan.
Dari sanalah lahir sebuah prinsip sederhana namun sangat penting dalam mitigasi:
Jangan memaksa alam mengikuti manusia. Manusialah yang harus memahami karakter alam.
Rumah yang Tidak Melawan Guncangan
Barangkali salah satu warisan paling menarik adalah arsitektur tradisional.
Rumah dan bangunan tradisional masyarakat Kaili tidak lahir dari ruang laboratorium modern. Ia lahir dari proses panjang antara manusia, lingkungan dan pengalaman.
Struktur kayu, tiang tumpu serta sambungan pasak memberikan fleksibilitas yang berbeda dibanding konstruksi bangunan yang sepenuhnya kaku.
Ketika tanah bergerak, struktur yang fleksibel memiliki kemampuan untuk mengikuti sebagian gerakan tersebut.
Inilah filosofi yang menarik untuk direnungkan di tengah pembangunan modern yang kerap menjadikan beton sebagai simbol kemajuan.
Kemajuan tidak selalu berarti membuat bangunan semakin kaku.
Kemajuan bisa pula berarti memahami kapan sebuah struktur harus kuat dan kapan ia harus lentur.
Leluhur Kaili tampaknya telah memahami prinsip itu melalui pengalaman.
Lobo: Menyimpan Kehidupan untuk Hari yang Sulit
Mitigasi tradisional ternyata tidak berhenti pada rumah tinggal.
Ada Lobo.
Bangunan tradisional berbentuk panggung dengan struktur tinggi ini memiliki fungsi yang berkaitan dengan penyimpanan pangan, benih dan kebutuhan komunal. Dalam konteks kehidupan masyarakat tradisional, keberadaan ruang penyimpanan seperti ini bukan sekadar persoalan logistik.
Ia adalah strategi bertahan hidup.
Ketika akses antarwilayah terputus karena pergerakan tanah, banjir, longsor atau gangguan lainnya, masyarakat tidak serta-merta kehilangan sumber kehidupannya.
Pangan yang disimpan menjadi cadangan.
Benih menjadi harapan untuk musim berikutnya.
Dan bangunan komunal menjadi bagian dari sistem ketahanan masyarakat.
Dalam bahasa kebencanaan modern, kita menyebutnya ketahanan pangan dan community resilience.
Leluhur mungkin tidak menggunakan istilah tersebut.
Namun mereka telah menjalankannya.
Bantaya: Ketika Mitigasi Dimulai dari Musyawarah
Ada pula Bantaya—ruang sosial tempat masyarakat berkumpul dan bermusyawarah.
Di tempat seperti inilah pengetahuan tidak hanya disimpan dalam benda, tetapi juga dalam percakapan.
Para pemangku adat atau Pangava memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Keputusan mengenai kehidupan bersama tidak hanya didasarkan pada kepentingan individu, tetapi mempertimbangkan ruang, lingkungan dan tanda-tanda alam yang dibaca secara kolektif.
Dalam konteks kebencanaan, konsep ini sangat relevan.
Sebab bencana tidak pernah hanya menjadi urusan satu orang.
Ketika gempa terjadi, masyarakat membutuhkan keputusan bersama: ke mana harus bergerak, siapa yang harus ditolong lebih dahulu, di mana berkumpul, bagaimana memastikan pangan tersedia dan bagaimana menjaga kelompok rentan.
Mitigasi pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi.
Mitigasi adalah budaya mengambil keputusan bersama.
Baruga dan Kekuatan Komunitas
Kemudian ada Baruga, ruang terbuka bertiang yang berfungsi sebagai tempat berkumpul dan menjalankan berbagai aktivitas sosial masyarakat.
Dalam perspektif kebencanaan, ruang seperti ini memiliki nilai strategis.
Ketika rumah-rumah tidak lagi aman untuk ditempati, masyarakat membutuhkan ruang bersama.
Tempat berkumpul.
Tempat berkomunikasi.
Tempat mendistribusikan bantuan.
Tempat memastikan tidak ada anggota komunitas yang tertinggal.
Baruga mengingatkan kita bahwa sebuah permukiman yang tangguh bukan hanya permukiman yang memiliki bangunan kuat.
Ia adalah permukiman yang memiliki ruang sosial yang kuat.
Mengapa Kampung Tua Berada di Ketinggian?
Ada pertanyaan menarik ketika kita melihat kembali jejak permukiman lama masyarakat Kaili.
Mengapa sebagian kampung tua berada di kawasan yang lebih tinggi?
Tentu keputusan leluhur harus dipahami dalam konteks sejarah, budaya dan kondisi lingkungan pada zamannya. Namun dari perspektif mitigasi modern, pilihan ruang di kawasan yang lebih tinggi dapat memberikan sejumlah keuntungan terhadap risiko tertentu yang berkembang di kawasan pesisir maupun dataran rendah.
Ketinggian dapat memberikan jarak dari ancaman gelombang tsunami.
Ia juga dapat mengurangi paparan terhadap kondisi tertentu pada tanah aluvial yang berpotensi mengalami pencairan ketika mengalami guncangan kuat.
Artinya, pemilihan lokasi permukiman bukan sekadar persoalan estetika atau kedekatan dengan sumber air.
Ada pengetahuan ruang di baliknya.
Leluhur membaca lanskap sebelum membangun kehidupan.
Pangan: Benteng Terakhir Ketika Jalan Terputus
Dalam situasi bencana, kita sering berbicara tentang evakuasi, tempat pengungsian, alat komunikasi dan bantuan logistik.
Tetapi ada satu hal yang tidak kalah penting:
makanan.
Masyarakat tradisional telah memahami bahwa ketahanan sebuah komunitas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyelamatkan diri pada hari pertama.
Mereka harus mampu bertahan pada hari kedua, ketiga, minggu berikutnya, bahkan lebih lama.
Umbi-umbian, tanaman buah, jagung lokal dan berbagai sumber pangan lainnya menjadi bagian dari sistem bertahan hidup.
Lumbung bukan hanya tempat menyimpan makanan.
Ia adalah bentuk kedaulatan masyarakat menghadapi ketidakpastian alam.
Nonggale Bengga dan Pelajaran untuk Kota Modern
Hari ini kota-kota tumbuh semakin cepat.
Beton menggantikan kayu.
Jalan membelah lembah.
Permukiman semakin padat.
Gedung-gedung semakin tinggi.
Teknologi semakin canggih.
Namun satu pertanyaan tetap relevan:
Apakah pembangunan kita benar-benar memahami tanah tempat kita berdiri?
Kita mungkin memiliki teknologi konstruksi yang jauh lebih maju daripada leluhur.
Kita memiliki peta sesar.
Kita memiliki sistem peringatan dini.
Kita memiliki kajian risiko.
Tetapi teknologi tersebut akan kehilangan makna apabila pembangunan dilakukan dengan mengabaikan karakter ruang dan daya dukung lingkungan.
Kearifan lokal bukan berarti menolak modernitas.
Sebaliknya, kearifan lokal dapat menjadi kompas agar modernitas tidak kehilangan arah.
Sains menjelaskan bagaimana gempa terjadi.
Teknologi membantu kita mengurangi dampaknya.
Tetapi pengetahuan lokal mengingatkan bahwa manusia harus terlebih dahulu mengenali tempat di mana ia hidup.
Bumi Bukan Musuh
Mungkin sudah waktunya kita berhenti memandang bumi sebagai musuh yang sewaktu-waktu menyerang manusia.
Bumi tidak sedang mencari korban.
Bumi bergerak karena hukum alam yang telah bekerja jauh sebelum manusia membangun kota, jalan dan gedung.
Yang harus berubah adalah cara manusia memperlakukan ruang hidupnya.
Nonggale Bengga memberi sebuah metafora yang kuat.
Ketika kerbau bumi terbangun, manusia tidak harus menantangnya.
Manusia harus memahami geraknya.
Menjauh dari zona berbahaya.
Membangun dengan benar.
Menyiapkan pangan.
Menjaga ruang terbuka.
Memperkuat solidaritas.
Dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Sebab pada akhirnya, mitigasi terbaik bukanlah menunggu bencana datang.
Mitigasi adalah cara hidup.
Dan mungkin di situlah kebijaksanaan terbesar leluhur Kaili berbicara kepada kita hari ini:
Bumi tidak pernah berjanji untuk diam. Karena itu, manusialah yang harus belajar hidup dengan geraknya.
Ketika Nonggale Bengga kembali menggeliat, yang menentukan masa depan bukan seberapa keras kita melawan bumi, tetapi seberapa bijak kita memahami tempat berpijak.
- Penulis: Smiet, SKom

Saat ini belum ada komentar